Indonesian Mining Association

  • Create an account
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Kerja Sama Smelter Freeport-Amman Jalan di Tempat

E-mail Print PDF

Oleh Rangga Prakoso

JAKARTA - Kerja sama antara PT Amman Mineral Nusa Tenggara dengan PT Freeport Indonesia untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) hingga kini tak ada perkembangan. Padahal, kedua perusahaan Tambang ini telah menjajaki kerja sama dan melakukan studi bersama.

Amman Mineral dan Freeport sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) tentang penjajakan kerja sama pembangunan Smelter bersama pada 31 Agustus tahun lalu. Pasca penandatanganan itu, Freeport dan Amman melakukan studi maupun kajian teknis bersama. Bahkan, para petinggi kedua induk perusahaan tersebut, yakni Pendiri Medco Arifin Panigoro dan Presiden Direktur Medco Hilmi Panigoro dengan CEO Freeport McMoran Richard Adkerson, sudah melakukan pertemuan di Washinton DC, Amerika Serikat pada 25 Juni kemarin.

Sayangnya, Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan, belum ada progres kerja sama dengan Amman. Kelanjutan kerja sama itu harus menunggu hasil negosiasi Freeport dengan pemerintah. "Pembangunan Smelter menunggu kesepakatan seluruhnya," kata Riza di Jakarta, Selasa (27/11).

Pemerintah dan Freeport masih terus melakukan pembahasan. Adapun keempat poin itu yakni Perpanjangan Operasi sampai 2041, pembangunan smelter, divestasi 51%, dan penerimaan negara. Kesepakatan umum keempat poin itu sudah tercapai pada Agustus 2017 silam. Kini kedua pihak sedang melakukan pembahasan mendetil dari kesepakatan itu.

Sebelum ada penjanjakan kerja sama dengan Freeport, Amman Mineral sendiri telah memulai pembangunan Smelter di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat pada April 2017 lalu. Smelter Amman itu dibangun di atas lahan 100 hektar di dekat Teluk Benete. Progres Smelter tersebut sudah lebih dari 10% atau persiapan lahan ditargetkan rampung pada akhir 2018.

Smelter tersebut rencananya memiliki kapasitas input sebesar 1 juta ton konsentrat Tembaga per tahun dan dapat ditingkatkan hingga 1,6 juta atau 2 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut dapat memproses konsentrat baik dari Tambang Batu Hijau, suplai potensial dari Tambang Elang yang saat ini dalam tahap eksplorasi, maupun sumber pemasok konsentrat lainnya.

Perusahaan yang sebelumnya bernama PT Newmont Nusa Tenggara itu bahkan memiliki dua rancangan smelter. Salah satu rancangannya itu terkait dengan kerja sama dengan Freeport. Adapun kapasitas smelter- nya bisa ditingkatan sekitar 2 juta-2,6 juta ton konsentrat.

Sementara itu, Head of Corporate Communications Amman Mineral Anita Avianty menuturkan, penjajakan kerja sama dengan Freeport masih dilakukan. Hanya saja dia tidak menjelaskan apakah studi dan kajian teknis bersama sudah selesai digarap. "Kami masih terus melakukan pembahasan untuk kerjasama pembangunan proyek Smelter ini," tuturnya.

Di sisi lain, Freeport sebenarnya juga sudah mulai membangun Smelter di Gresik, Jawa Timur sejak 2014 silam. Hanya saja progresnya hingga kini belum memasuki tahap konstruksi. Pasalnya, perusahaan Tambang asal Amerika Serikat itu membutuhkan kepastian operasi pasca berakhirnya Kontrak Karya (KK) di 2021 nanti.

Sama dengan kerja sama dengan Amman, kelanjutan proyek Smelter itu masih dalam pembahasan detil dengan pemerintah. Namun Freeport menegaskan komitmennya untuk membangun smelter, hanya saja belum disepakati tenggat

waktu pembangunan Smelter tersebut. Mengingat awal 2022 merupakan batas akhir Ekspor konsentrat, Smelter Freeport harus rampung dalam waktu sekitar tiga tahun lagi. Sementara pembangunan Smelter biasanya membutuhkan waktu lima tahun.

Kerja sama Freeport dengan Amman merupakan salah satu opsi bila Smelter di Gresik itu belum rampung di 2022 nanti. Namun ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut Riza tidak membenarkan atau menyang-kalnya. "Masih dalam pembahasan," katanya.

Saat ini sebanyak 1 juta ton per tahun produksi konsentrat Tembaga dari Freeport diolah di Smelter milik PT Smelting Gresik. Selain itu, Freeport juga mengekspor konsentrat Tembaga sebesar 1,2 juta ton per tahun. Tanpa Smelter baru, maka pada 2022 nanti, Freeport hanya bisa mengekspor hasil pemurnian dari 1 juta ton per tahun produksi konsentratnya.

Amman Mineral dan Freeport memiliki kewajiban pemurnian di dalam negeri sebagai syarat tetap dapat mengekspor konsentrat hingga 2022. Pasalnya, keduanya telah beralih kontraknya menjadi izin usaha Pertambangan khusus (IUPK). Sesuai Peraturan Pemerintah No 1 Tahun 2017 tentang pelaksanaan kegiatan usaha Pertambangan Mineral dan batu bara yang menyatakan bahwa hanya Mineral hasil pemurnian lah yang diperbolehkan diekspor mulai 2022.

Sumber : Investor Daily, 28 November 2018

Last Updated ( Friday, 30 November 2018 02:34 )