Indonesian Mining Association

  • Create an account
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Pertambangan Masih Jadi Tulang Punggung Negara

E-mail Print PDF

Wilayah yang luas dengan sumber daya alam yang berlimpah merupakan satu kekuatan besar dan modal dasar bagi Indonesia untuk menjadi negara besar dan berdaulat. Contohnya saja, Indonesia memiliki cadangan Emas sekitar 39 persen dari cadangan dunia. Tak hanya emas, Mineral lain seperti perak, tembaga, nikel, dan batu bara pun melimpah di Indonesia. Tak heran, industri Pertambangan telah mengambil peran penting dalam perjalanan pembangunan di Indonesia. Hal ini terlihat dan kontribusinya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam perjalanannya, industri Pertambangan pun tidak hanya berperan sebagai komoditas, namun juga penggerak pembangunan nasional.

Mengutip kajian yang dilakukan International Council on mining and Metals (ICMM) bekerja sama dengan perusahaan konsultan Oxford Policy Management terhadap 10 negara untuk mengetahui kontribusi pertam-bangan terhadap ekonomi makro negara-negara tersebut, antara lain bahwa Pertambangan berkontribusi terhadap Ekspor sampai 78% di Tanzania, 66% di Chile dan 19% di Brazil.

Pertambangan juga mendatangkan devisa bagi negara terutama pada masa operasi. Penerimaan negara dari Pertambangan juga relatif besar, seperti di Tanzania, Pertambangan menyumbangkan 8% dari keseluruhan penerimaan negara, sementara sumbangan Pertambangan bagi produk domestik bruto sekitar 2-4%. Lapangan kerja baru langsung yang tercipta dari Pertambangan sekitar 1,5% namun dengan tingkat upah yang lebih tinggi dari rata-rata.

Bagaimana dengan di Indonesia? Mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi penerimaan negara bukan Pajak (PNBP) dari sektor Pertambangan Mineral dan batu bara (minerba) hingga pertengahan November 2018 mencapai Rp 41,02 triliun. Komposisi penerimaan negara sektor Pertambangan itu berasal dari royalti, penjualan hasil Tambang serta iuran tetap.

Adapun besaran untuk royalti mencapai sekitar Rp24,5 triliun, penjualan hasil Tambang sekitar Rpl6 triliun serta iuran tetap sekitar Rp 0,5 triliun. Sampai akhir tahun, diprediksi PNBP bisa mencapai Rp 43 triliun, dari target Rp 32,1 triliun. Sejumlah faktor menjadi pendorong peningkatan tersebut, diantaranya harga komoditi yang fluktuatif, produksi Minerba yang semakin bagus, juga peran aktif perusahaan-perusahaan dalam melakukan kegiatan yang semakin baik.

"Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM terus berusaha sekuat tenaga mengawal kegiatan usaha Pertambangan Mineral dan batubara di Indonesia agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat sehingga seluruh rakyat Indonesia mendapatkan energi berkeadilan," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot.

Pertambangan umum juga memiliki peran nyata bagi pembangunan daerah. Ambil contoh keberadaan PT Freeport Indonesia yang menurut studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia tahun 2013, kegiatan operasional PTFI berkontribusi terhadap 91% PDRB Kabupaten Mimika, 37,5% PDRB Provinsi Papua, dan 0,8% PDB Indonesia. PTFI juga telah menyerap total lebih dari 32.600 tenaga kerja, baik karyawan langsung maupun kontraktor, dimana hampir 98% di antaranya adalah putra-putri Indonesia. Dari sekitar 12.000 karyawan langsung PTFI, 35,7% di antaranya adalah berasal dari Papua, 63% berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, dan sisanya 1,3% Tenaga Kerja asing.

Tetap Optimistis

Perjalanan industri Pertambangan di Indonesia memang tak selalu mulus. Apalagi dala beberapa tahun ke belakang, sempat mengalami keterpurukan akibat merosotnya harga komoditas dunia. Perlahan namun pasti, seiring membaiknya harga komoditas, kinerja Pertambangan pun mulai membaik. Ketua Umum IMA Ido Hutabarat bahkan optimistis bahwa sektor Pertambangan akan mengalami kebangkitan.

Menurut dia, geliat pasar komoditas yang membaik dan meningkatnya permintaan pasar akan produk Tambang mendorong kebangkitan industri Pertambangan di Indonesia. Dia sangat yakin bahwa dengan kekayaan sumber daya Mineral dan batubara membuat Indonesia menjadi salah satu tujuan Investasi favorit para investor. Energi dan hasil Tambang pun dapat diandalkan sebagai modal dasar bangsa Indonesia untuk mewujudkan kekuatan ekonomi nasional, meningkatkan produktivitas dan daya saing, serta meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, sesuai dengan amanat Nawacita.

Dirjen Bambang Gatot pun mendorong agar sektor Minerba berkontribusi lebih lagi untuk devisa negara. Karenanya, kata dia, pemerintah juga mendukung berbagai inovasi agar segala aspek di sekror tersebut, mulai dari produksi, pengawasan, hingga pemasaran bisa lebih mudah dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Salah satunya dengan meningkatkan monitoring secara online untuk pengawasan produksi minerba.

 Sumber : Investor Daily : 28 November 2018