Indonesian Mining Association


  • Buat akun
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Peluang Minta Diskon dari Kasus Limbah

Surel Cetak PDF

Inalum ingin mendapatkan harga 40% participating interest (PI) Rio Tinto dengan harga diskon. Keduanya masih terlibat negosiasi untuk menyelesaikan kesepakatan harga. Peluang Inalum mendapat diskon harga makin terbuka lantaran Rio Tinto tengah terpojok isu lingkungan dari operasi Freeport.

KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara mengejar waktu hingga April 2018 untuk membeli saham divestasi Freeport Indonesia sebesar 41,94%. Keseriusan pemerintah mengambil saham divestasi itu antara lain diwujudkan dengan membentuk induk usaha {holding) BUMN sektor pertambangan. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ditunjuk sebagai holding BUMN tambang, pada November 2017.

Perusahaan yang dipimpin Budi Gunadi Sadikin, mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu, memang diberi misi khusus memborong saham divestasi Freeport. Salah satu yang diincar adalah 40% participating interest (PI) atau saham Freeport Indonesia milik Rio Tinto. Tak heran, kini malum tampak intens bernegosiasi dengan Rio Tinto.

Selain mengincar Pi milik Rio Tinto, Inalum juga mengincar 5% saham Freeport Indonesia milik Freeport McMoran. Hitung punya hitung, berbagai aksi itu akan menjadikan Inalum menguasai 51% saham Freeport Indonesia.

Riza Pratama Juru Bicara PT Freeport Indonesia mengatakan, Rio Tinto memang ingin keluar dari Grasberg. Ketidakjelasan perpanjangan masa operasional Freeport menjadi pertimbangannya.

Selain ketidakjelasan kontrak, urusan lingkungan juga dikabarkan menjadi pertimbangan Rio Tinto keluar dari Freeport. Berdasarkan dokumen negosiasi divestasi saham Freeport yang diterima KONTAN, kerusakan lingkungan akibat limbah (tailing) Freeport Indonesia juga menekan Rio Tinto. Kabarnya, urusan lingkungan ini membuat sejumlah investor global mengancam mencabut dana investasinya di Rio Tinto.

Dengan alasan lingkungan itu juga, Norwegia melarang lembaga dana pensiun negara mereka untuk menginvestasikan dana di Rio Tinto. Secara spesifik Norwegia menuduh Rio Tinto terlibat langsung dalam kerusakan lingkungan akibat penambang Emas Grasberg milik Freeport.

Bak pucuk dicinta ulam tiba Posisi Rio Tinto yang tengah tersudut, menjadi peluang bagi Inalum untuk mengajukan diskon harga ke Rio Tinto.

Benarkah? "Sebagai pembeli pasti kami menawar semurah-murahnya," kata Budi, diplomatis.

Budi masih merahasiakan tawaran harga yang diajukan ke Rio Tinto. "Kami tengah melakukan negosiasi, kami tak bisa ngomong. Tapi mnge harga sudah ada," ujar Budi.

Merujuk informasi yang sampai KONTAN, Inalum akan memakai skema discounted cashflow (DCF) dari harga pasar untuk meminang 40% PI milik Rio Tinto. DCF adalah metode perhitungan nilai wajar berdasarkan konsep bahwa nilai suatu bisnis berasal dari jumlah cashflow atau arus uang yang didapat selama masa hidup bisnis tersebut. Kemudian hasilnya diskonto-kan kembali terhadap nilai uang yang berlaku sekarang.

Hitung punya hitung, harga penawaran Inalum terhadap 40% PI milik Rio Tinto sekitar US$ 2,3 miliar. Nilai itu mencerminkan harga 9,36% saham Freeport milik Inalum (hasil pemberian Pemerintah mdonesia) sekitar US$ 550 juta. Kabarnya, nilai tawaran itulah yang disorongkan Inalum ke Rio Tinto.

Sebagai perbandingan, sejumlah lembaga keuangan dunia juga memberikan hitungan harga (valuasi) atas 40% PI milik Rio Tinto. Deutsche Bank, misalnya, memberi valuasi harga 40% PI Rio Tinto sebesar US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 45,5 triliun dengan kurs saat itu. Harga tersebut juga tak terpaut jauh dari hitungan HSBC, maupun Morgan Stanley.

Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso menilai, pembelian participating interest 40% Rio Tinto perlu dicermati. Sebab, Rio Tinto tidak berkaitan langsung dengan Kontrak Karya (KK).

Ia menilai, skema DCF dari Inalum ialah metode umum. Tapi, skema ini termasuk berisiko. Apalagi, DCF memasukkan Mineral sebagai pendapatan. Artinya Mineral diakui milik pemegang Kontrak Karya. "Padahal Mineral milik negara, bukan milik kontraktor," tandasnya kepada KONTAN.

(Selesai)

Pratama Guitarra/Azis H usaini

 Sumber : Kontan, 27 Maret 2018

 

Peluang Minta Diskon dari Kasus Limbah

Surel Cetak PDF

Inalum ingin mendapatkan harga 40% participating interest (PI) Rio Tinto dengan harga diskon. Keduanya masih terlibat negosiasi untuk menyelesaikan kesepakatan harga. Peluang Inalum mendapat diskon harga makin terbuka lantaran Rio Tinto tengah terpojok isu lingkungan dari operasi Freeport.

KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara mengejar waktu hingga April 2018 untuk membeli saham divestasi Freeport Indonesia sebesar 41,94%. Keseriusan pemerintah mengambil saham divestasi itu antara lain diwujudkan dengan membentuk induk usaha {holding) BUMN sektor pertambangan. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ditunjuk sebagai holding BUMN tambang, pada November 2017.

Perusahaan yang dipimpin Budi Gunadi Sadikin, mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu, memang diberi misi khusus memborong saham divestasi Freeport. Salah satu yang diincar adalah 40% participating interest (PI) atau saham Freeport Indonesia milik Rio Tinto. Tak heran, kini malum tampak intens bernegosiasi dengan Rio Tinto.

Selain mengincar Pi milik Rio Tinto, Inalum juga mengincar 5% saham Freeport Indonesia milik Freeport McMoran. Hitung punya hitung, berbagai aksi itu akan menjadikan Inalum menguasai 51% saham Freeport Indonesia.

Riza Pratama Juru Bicara PT Freeport Indonesia mengatakan, Rio Tinto memang ingin keluar dari Grasberg. Ketidakjelasan perpanjangan masa operasional Freeport menjadi pertimbangannya.

Selain ketidakjelasan kontrak, urusan lingkungan juga dikabarkan menjadi pertimbangan Rio Tinto keluar dari Freeport. Berdasarkan dokumen negosiasi divestasi saham Freeport yang diterima KONTAN, kerusakan lingkungan akibat limbah (tailing) Freeport Indonesia juga menekan Rio Tinto. Kabarnya, urusan lingkungan ini membuat sejumlah investor global mengancam mencabut dana investasinya di Rio Tinto.

Dengan alasan lingkungan itu juga, Norwegia melarang lembaga dana pensiun negara mereka untuk menginvestasikan dana di Rio Tinto. Secara spesifik Norwegia menuduh Rio Tinto terlibat langsung dalam kerusakan lingkungan akibat penambang Emas Grasberg milik Freeport.

Bak pucuk dicinta ulam tiba Posisi Rio Tinto yang tengah tersudut, menjadi peluang bagi Inalum untuk mengajukan diskon harga ke Rio Tinto.

Benarkah? "Sebagai pembeli pasti kami menawar semurah-murahnya," kata Budi, diplomatis.

Budi masih merahasiakan tawaran harga yang diajukan ke Rio Tinto. "Kami tengah melakukan negosiasi, kami tak bisa ngomong. Tapi mnge harga sudah ada," ujar Budi.

Merujuk informasi yang sampai KONTAN, Inalum akan memakai skema discounted cashflow (DCF) dari harga pasar untuk meminang 40% PI milik Rio Tinto. DCF adalah metode perhitungan nilai wajar berdasarkan konsep bahwa nilai suatu bisnis berasal dari jumlah cashflow atau arus uang yang didapat selama masa hidup bisnis tersebut. Kemudian hasilnya diskonto-kan kembali terhadap nilai uang yang berlaku sekarang.

Hitung punya hitung, harga penawaran Inalum terhadap 40% PI milik Rio Tinto sekitar US$ 2,3 miliar. Nilai itu mencerminkan harga 9,36% saham Freeport milik Inalum (hasil pemberian Pemerintah mdonesia) sekitar US$ 550 juta. Kabarnya, nilai tawaran itulah yang disorongkan Inalum ke Rio Tinto.

Sebagai perbandingan, sejumlah lembaga keuangan dunia juga memberikan hitungan harga (valuasi) atas 40% PI milik Rio Tinto. Deutsche Bank, misalnya, memberi valuasi harga 40% PI Rio Tinto sebesar US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 45,5 triliun dengan kurs saat itu. Harga tersebut juga tak terpaut jauh dari hitungan HSBC, maupun Morgan Stanley.

Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso menilai, pembelian participating interest 40% Rio Tinto perlu dicermati. Sebab, Rio Tinto tidak berkaitan langsung dengan Kontrak Karya (KK).

Ia menilai, skema DCF dari Inalum ialah metode umum. Tapi, skema ini termasuk berisiko. Apalagi, DCF memasukkan Mineral sebagai pendapatan. Artinya Mineral diakui milik pemegang Kontrak Karya. "Padahal Mineral milik negara, bukan milik kontraktor," tandasnya kepada KONTAN.

(Selesai)

Pratama Guitarra/Azis H usaini

 Sumber : Kontan, 27 Maret 2018

 

Rio Tinto Jual Saham Tambang Batu Bara Queensland Rp 2,7 Triliun

Surel Cetak PDF

Jakarta - Perusahaan tambang asal Inggris, Rio Tinto menjual 75% kepemilikan sahamnya di proyek batu bara di Queensland ke perusahaan tambang lainnya asal Australia, Whitehaven Coal Australia. NIlai keseluruhan saham yang dilepas itu mencapai US$ 200 juta atau setara Rp 2,7 triliun.

Demikian dikutip dari Reuters, Jumat (23/3/2018). Aksi korporasi ini dilakukan Rio Tinto dalam rangka meninggalkan bisnis batu bara yang semakin surut dan memperkuat bisnis bijih besi, tembaga dan aluminium. Rio juga tengah dalam proses penjualan sisa aset proyek tambang batu bara di Kestrel, Australia.

"Kami percaya perjanjian penjualan Winchester South merupakan pilihan terbaik untuk pengembangan proyek di masa depan sekaligus memberikan nilai yang menarik bagi Rio Tinto," kata CEO Rio Tinto, Jean-Sebastien Jacques.

Adapun pembayaran untuk nilai saham yang dilepas ke Whitehaven tersebut akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, Whitehaven akan membayat US$ 150 juta ke Rio Tinto pada tanggal penyelesaian, sedangkan tahap kedua pembayaran dilakukan setahun selanjutnya, yakni sebesar US$ 50 juta.

Proyek batu bara yang berlokasi di Winchester South, bagian timur laut Queensland ini akan dibayar dengan uang tunai dan diharapkan rampung pada kuartal kedua tahun ini. Sementara 25% saham yang tersisa akan tetap dimiliki oleh perusahaan pengembang properti, Scentre Group.

Sebagai informasi, saat ini beberapa investor menghindari bahan bakar karena kekhawatiran tentang perubahan iklim dan karena lebih banyak energi alternatif lingkungan lain yang kini harganya menjadi lebih kompetitif. Penghasilan penambang batu bara tahun ini terbantu oleh kenaikan harga batu bara.

Rio Tinto sendiri juga memiliki participating interest sebesar 40% di PT Freeport Indonesia (PTFI) sejak 1995. Saat ini, PT Inalum tengah berupaya mengakuisisi 40% participating interest yang dimiliki Rio Tinto tersebut dan akan dikonversi menjadi saham PT Freeport Indonesia sebagai upaya memiliki mayoritas kepemilikan saham di PTFI.

(eds/ang)

https://finance.detik.com/energi/d-3932712/rio-tinto-jual-saham-tambang-batu-bara-queensland-rp-27-triliun

 Sumber : Detik.com, 23 Maret 2018

 

Rio Tinto Jual Saham Tambang Batu Bara Queensland Rp 2,7 Triliun

Surel Cetak PDF

Jakarta - Perusahaan tambang asal Inggris, Rio Tinto menjual 75% kepemilikan sahamnya di proyek batu bara di Queensland ke perusahaan tambang lainnya asal Australia, Whitehaven Coal Australia. NIlai keseluruhan saham yang dilepas itu mencapai US$ 200 juta atau setara Rp 2,7 triliun.

Demikian dikutip dari Reuters, Jumat (23/3/2018). Aksi korporasi ini dilakukan Rio Tinto dalam rangka meninggalkan bisnis batu bara yang semakin surut dan memperkuat bisnis bijih besi, tembaga dan aluminium. Rio juga tengah dalam proses penjualan sisa aset proyek tambang batu bara di Kestrel, Australia.

"Kami percaya perjanjian penjualan Winchester South merupakan pilihan terbaik untuk pengembangan proyek di masa depan sekaligus memberikan nilai yang menarik bagi Rio Tinto," kata CEO Rio Tinto, Jean-Sebastien Jacques.

Adapun pembayaran untuk nilai saham yang dilepas ke Whitehaven tersebut akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, Whitehaven akan membayat US$ 150 juta ke Rio Tinto pada tanggal penyelesaian, sedangkan tahap kedua pembayaran dilakukan setahun selanjutnya, yakni sebesar US$ 50 juta.

Proyek batu bara yang berlokasi di Winchester South, bagian timur laut Queensland ini akan dibayar dengan uang tunai dan diharapkan rampung pada kuartal kedua tahun ini. Sementara 25% saham yang tersisa akan tetap dimiliki oleh perusahaan pengembang properti, Scentre Group.

Sebagai informasi, saat ini beberapa investor menghindari bahan bakar karena kekhawatiran tentang perubahan iklim dan karena lebih banyak energi alternatif lingkungan lain yang kini harganya menjadi lebih kompetitif. Penghasilan penambang batu bara tahun ini terbantu oleh kenaikan harga batu bara.

Rio Tinto sendiri juga memiliki participating interest sebesar 40% di PT Freeport Indonesia (PTFI) sejak 1995. Saat ini, PT Inalum tengah berupaya mengakuisisi 40% participating interest yang dimiliki Rio Tinto tersebut dan akan dikonversi menjadi saham PT Freeport Indonesia sebagai upaya memiliki mayoritas kepemilikan saham di PTFI.

(eds/ang)

https://finance.detik.com/energi/d-3932712/rio-tinto-jual-saham-tambang-batu-bara-queensland-rp-27-triliun

 Sumber : Detik.com, 23 Maret 2018

 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL