News » Details 09/09/2010  2 Users online   
   
   
 
News, IMA Source
 
News, From the Press
 
Product and Technology
 
Market
 
   
Product and Technology
Monday, August 10, 2009

Sukses Pembangunan dan Pengurangan Emisi

Tine Larsen, dari bagian humas Dong Energy, memperlihatkan bagaimana sistem listrik kombinasi energi angin dan batu bara bekerja di perusahaan energi Dong. Setiap hari Dong menyediakan listrik bagi sekitar sejuta pelanggan yang antara lain berada di Swedia.


Ketika Protokol Kyoto diratifikasi pada tahun 1997, dunia masih bingung bagaimana seharusnya pembangunan dilakukan. Ketika emisi karbon diketahui akan berdampak pada naiknya suhu bumi global, negara-negara maju diminta kesediaannya untuk mengurangi emisi. Di benak semua orang, mengurangi emisi sama dengan mengerem laju pembangunan.

Denmark jauh sebelum Protokol Kyoto diratifikasi telah belajar akan satu hal: harga minyak bumi membuat mereka mau tak mau harus berpaling darinya. Teknologi dengan menggunakan sesedikit mungkin energi dari bahan bakar fosil menjadi incaran. Ketika mereka memulai, belum ada keraguan tentang bagaimana mungkin mengurangi emisi karbon sambil terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi?

Sebuah tugas yang tampak amat berat. Dan, memang itulah sebenarnya penyebab terhambatnya pemenuhan komitmen mengurangi emisi karbon negara-negara maju. Sekarang, antara lain, Jepang dan Kanada masih enggan mengurangi emisi karbonnya.

Kekhawatiran negara-negara maju tersebut dan apa yang menjadi penghambat negara maju itu tidak terjadi pada Denmark. Sejak tahun 1980-an Denmark berhasil mempertahankan konsumsi energinya dengan cukup stabil, sementara ekonominya bertumbuh hingga 70 persen.

Menurut Denmark, seperti dituliskan dalam Climate Solutions Denmark, komunikasi yang efektif merupakan kunci penting tentang keberhasilan membangun dengan pengurangan emisi karbon dan gas rumah kaca—faktor penyebab perubahan iklim karena menaikkan suhu bumi secara global. Sebab, dampak mengerikan dari perubahan iklim akibat kenaikan suhu bumi sudah dipahami semua orang.

Sekarang tidak perlu lagi mengomunikasikan ”mengapa kita harus beraksi”, melainkan komunikasi yang mampu menyajikan komunikasi lintas sektoral, ”bagaimana kita dapat mewujudkan cara hidup rendah karbon dengan ekonomi yang juga rendah karbon”. Dalam konteks itu, dibentuklah Climate Solutions Denmark.

Fokus pada solusi

Climate Solutions Denmark memfokuskan diri pada mengomunikasikan: di mana arena perang yang sebenarnya dan apa yang sebenarnya akan menggerakkan pasar. Secara singkat, Climate Solutions Denmark adalah sebuah panduan keselamatan (survival) bagi para pemangku kepentingan di bidang energi dan lingkungan dalam konteks perubahan iklim.

Dengan membentuk ini, Denmark menegaskan: krisis iklim bukan lagi hal yang harus diperdebatkan atau didiskusikan, melainkan sebuah hal yang harus dicarikan solusinya.

Pada akhir November 2007 digelarlah Copenhagen Climate Solutions. Di sana bertemu ribuan orang dari negara-negara Skandinavia. Mereka adalah para pemangku kepentingan dari situasi krisis iklim. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang pasar terbuka dalam kerangka perubahan iklim, energi, dan teknologi bersih. Di sana digelar konferensi untuk menetapkan tantangan nyata dan peluang yang ada dari situasi krisis iklim, sementara kegiatan pameran menggelar berbagai jenis solusi untuk menciptakan pembangunan ekonomi rendah karbon.

Mereka yang hadir adalah pengusaha dari perusahaan yang berminat pada pembangunan rendah karbon: mulai dari arsitek, ahli teknik lingkungan, perusahaan pertanian, manajer lingkungan, hingga perusahaan dengan produk yang energi efisien. Juga hadir akademisi, peneliti, investor, sejumlah pejabat pembuat kebijakan dari pusat hingga daerah, ahli komunikasi dan wartawan, anggota organisasi nonpemerintah, serta para konsultan energi dan lingkungan.

Proses pencarian solusi secara terus-menerus ini menghasilkan buah yang mencengangkan. Dengan mematahkan kaitan emisi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi, Denmark, di satu sisi, telah menjadi negara dengan teknologi canggih dan pembangunan yang merata hampir di seluruh pelosok negeri.

Di sisi lain, dia juga mampu mempertahankan konsumsi energi. Sumbangan terbesar untuk ini adalah keputusan mengembangkan energi angin yang diambil sejak tahun 1970-an saat terjadi krisis minyak global yang pertama.

Ketika energi angin sering kali, juga di Indonesia, dikatakan tidak ekonomis karena sifatnya yang tidak stabil—angin tak bisa terus-menerus stabil kencang— Claus Hermansen dari Departemen Luar Negeri menandaskan, ”Semua yang kami kembangkan harus berbasis ekonomi.”
”Artinya, secara ekonomi tidak merugi. Oleh karena itu, untuk energi, angin memang bukan menjadi satu-satunya. Kami selalu mengombinasikan dengan sumber energi lain. Bahkan, batu bara masih kami pakai, tetapi jumlahnya sudah sangat kecil dan bukan lagi yang dominan. Angin di Denmark paling bagus adalah pada musim dingin,” ujarnya. Energi angin Denmark kini telah diekspor antara lain ke Jerman.

Denmark secara jeli telah menempatkan energi menjadi hal pokok dalam langkah mitigasi— pengurangan emisi karbon dan gas rumah kaca secara jangka panjang.

Menurut Hermansen, ada tiga langkah pokok yang diambil, yaitu membangun sistem pemanas dan pembangkit listrik kombinasi (combined heat and power) yang dibangun bertingkat mulai dari pusat hingga distrik, melakukan penghematan energi, dan menggunakan energi terbarukan.

Di tingkat akar rumput diterapkan sistem hukuman imbalan (stick and carrot). Pemerintah melakukan pelabelan untuk rumah berdasarkan konsumsi energinya. Sertifikat untuk rumah tersebut berlaku lima tahun.

Hermansen menambahkan, ”Sertifikat tersebut akan menentukan harga rumah karena rumah dengan energi yang amat efisien harganya tinggi di pasaran, sementara rumah dengan penggunaan energi yang boros harganya rendah. Sekarang masyarakat secara pasti bergeser ke arah perilaku energi efisien.”

Lalu, apa sebenarnya kunci sukses Denmark hingga mampu mewujudkan hal yang seakan tak mungkin tersebut? Kuncinya adalah kolaborasi tingkat tinggi yang unik antara pengetahuan yang inovatif dan pusat-pusat penelitian, perusahaan-perusahaan yang visioner—memandang jauh ke depan melompati zamannya— konsumen yang kritis, dan politisi yang memiliki komitmen tinggi (untuk mengatasi persoalan krisis energi dan krisis iklim) adalah hal luar biasa yang pernah terjadi di satu sudut di belahan utara dunia.

Kini buah manis yang dipetik Denmark adalah negara itu menjadi salah satu negara elite dunia di bidang energi angin, sistem energi yang efisien, integrasi energi terbarukan. Kini negara tersebut menjadi yang terdepan dalam membantu banyak negara dalam pembangunan sistem energinya dan langkah adaptasi terhadap perubahan iklim. Denmark telah membantu sekitar 50 negara di seluruh dunia, antara lain China, Malaysia, Thailand, Lituania, Banglades, Uganda, dan Afrika Selatan. (brigitta isworo Laksmi)

Sumber : KOMPAS, 31 Juli 2009


Posted by : David